offshore

Norwegia Manfaatkan Energi Alternatif Pengganti Minyak Bumi

Norwegia, sebagai salah satu negara Skandinavia sudah beralih dari minyak bumi ke tenaga angin dan Surya dalam memenuhi kebutuhan energinya. Dalam pemanfaatan energi di negaranya, mereka melakukan dengan dengan cara mengalihkan dana investasi untuk sumber energi ini berkat surplus minyak dan dikenal sebagai Oil Fund sebesar USD 1 triliun atau Rp 14.117 triliun (USD 1 = Rp 14.117).

Dilansir dari Guardian, investasi untuk energi terbarukan diperkirakan mencapai USD 14 miliar (Rp 197,6 triliun). Hal tersebut sebagai bukti bahwa negara yang kaya berkat minyak bumi pun bisa melepas ketergantungan dari komoditas itu menuju energi hijau alias terbarukan.

“Bahkan dana yang dibentuk berkat minyak menyadari bahwa masa depan itu hijau,” ujar CEO Storebrand Asset Management Jan Erik Saugestad.

Pemerintah Norwegia resmi memberikan lampu hijau pada Jumat, 5 April 2019 lalu agar dana tersebut digunakan untuk investasi pada perusahaan energi terbarukan yang tidak listing di bursa saham. Pasalnya, dua per tiga dari pasar infrastruktur terbarukan memang tidak listing. Pengamat pun menganggap perusahaan-perusahaan tersebut menjanjikan karena sedang berkembang. Negara itu juga mengumumkan divestasi pada lebih banyak perusahaan batu bara. Ini kelanjutan dari kebijakan tahun 2015 lalu ketika Norwegia menginvestasikan USD 6,5 miliar saham terkait batu bara.

Bulan Maret lalu, pengelola dana minyak itu juga menyebut akan melakukan divestasi pada 134 perusahaan yang melakukan eksplorasi minyak dan gas. Tetapi saham di Shell dan BP masih dipertahankan karena keduanya memiliki divisi energi terbarukan.
Harga Minyak Dunia April 2019

Sejak November 2018, harga minyak mentah melonjak hingga 2% pada akhir perdagangan Senin atau Selasa (9/4) pagi di tengah pasokan global yang semakin ketat.

Seperti yang dilansir dari Reuters, faktor tersebut akibat ketatnya pasokan global, antara lain akibat pertempuran di Libya, pemangkasan produksi yang dipimpin OPEC, dan sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela.
Di sisi lain, Patokan internasional untuk minyak mentah Brent periode pengiriman Juni 2019 naik US$0,76 atau 1,10%, menjadi ditutup pada US$71,10 per barel di London ICE Futures Exchange. Tingkat tertinggi sesi Brent mencapai US$71,19 per barel.

Sementara itu, Minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik US$1,32 atau 2,1%, menjadi menetap pada U$64,40 per barel di New York Mercantile Exchange. WTI mencapai tingkat tertinggi pada angka US$64,44.

“Kenaikan harga minyak mentah ini terus berjalan dengan nilai tertinggi dalam lima bulan pada hari ini, semakin menguatkan komunitas spekulatif yang baru-baru ini tertarik kembali ke sisi jangka panjang WTI dengan yakin,” kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates, dalam sebuah catatan, seperti dilansir Reuters.
Untuk menopang harga, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya seperti Rusia berjanji menahan sekitar 1,2 juta barel per hari (bph) pasokan mulai awal 2019.

“Pemotongan pasokan OPEC yang sedang berlangsung dan sanksi-sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela telah menjadi pendorong utama harga sepanjang tahun ini,” kata Hussein Sayed, kepala strategi pasar di broker berjangka FXTM.

Terlepas dari faktor-faktor yang mendorong harga, masih ada faktor-faktor yang dapat menurunkan harga minyak tahun ini.
Selain itu, Rusia yang sebelumnya enggan menyetujui perjanjiannya dengan OPEC, melalui Kirill Dmitriev sebagai kepala dana investasi langsung Rusia, memberi isyarat pada Senin (8/4/2019) bahwa Rusia saat ini ingin meningkatkan produksi minyak ketika bertemu dengan OPEC pada Juni. Rusia juga diproyeksikan meningkatkan produksi sebesar 228.000 barel per hari, yang sebelumnya sempat memangkas produksi minyaknya.

Sumber gambar: thegorbalsla.com

Bagikan:

You must be logged in to post a comment.
Menu


    ×