Ilustrasi 12 hand signal crane standar ASME B30 untuk rigger

12 Hand Signal Crane Standar ASME B30 Wajib Dikuasai!  

Dalam lingkungan kerja lifting yang bising, komunikasi verbal seringkali tidak efektif karena kebisingan mesin, angin, dan jarak. 

Isyarat tangan (hand signal) menjadi bahasa universal yang paling andal untuk menjembatani komunikasi antara rigger dan operator crane, serta menjadi garis pertahanan utama dalam mencegah kecelakaan kerja akibat miskomunikasi.

Lebih dari sekadar gerakan informal, hand signal crane adalah standar prosedur yang diatur secara internasional dalam American Society of Mechanical Engineers (ASME) B30 dan diwajibkan di Indonesia melalui Permenaker No. 8 Tahun 2020. Oleh karena itu, penguasaan 12 isyarat tangan standar bukanlah pilihan, melainkan persyaratan kompetensi wajib bagi setiap operator crane dan rigger profesional di lapangan.

Pentingnya Standarisasi Hand Signal Crane untuk Keselamatan Kerja

Bayangkan sebuah proyek besar dengan puluhan pekerja dari berbagai perusahaan kontraktor berbeda. Masing-masing membawa kebiasaan kerja dari lokasi sebelumnya. 

Jika setiap tim menggunakan “bahasa tangan” versi masing-masing, potensi miskomunikasi menjadi sangat besar dan di area lifting, miskomunikasi tidak hanya berarti pekerjaan terganggu, tetapi nyawa yang terancam.

Standarisasi hand signal memastikan bahwa seorang rigger dari Surabaya dan operator crane dari Balikpapan bisa bekerja bersama di platform offshore Kalimantan dengan pemahaman yang sama terhadap setiap isyarat.

Beberapa alasan utama mengapa standarisasi ini tidak bisa diabaikan:

  • Operator crane di dalam kabin tidak bisa mendengar komunikasi verbal dari luar dalam kondisi normal operasi
  • Kebisingan mesin, angin kencang (terutama offshore), dan jarak fisik membuat komunikasi lisan tidak efektif
  • Satu isyarat yang salah atau satu isyarat yang disalahartikan bisa menyebabkan dropped load, collision, overswing, atau crane terguling
  • Standar internasional memastikan setiap operator dan rigger “berbicara” dalam bahasa yang sama di mana pun mereka bekerja
  • Di Indonesia, hand signal crane diatur secara resmi dalam Permenaker No. 8 Tahun 2020 sebagai bagian dari persyaratan K3 pesawat angkat

Baca juga: Signal Rigger Menurut Peraturan Internasional

Aturan Main Signal Person

Tidak semua orang di area lifting boleh memberikan hand signal kepada operator crane. Ini adalah hal yang sering disalahpahami di lapangan dan kesalahpahaman ini menjadi akar dari banyak insiden.

Signal person atau signalman adalah individu yang ditunjuk secara resmi oleh lifting supervisor untuk menjadi satu-satunya penghubung komunikasi antara tim lapangan dan operator crane. Hanya signal person yang berwenang memberi isyarat tidak ada orang lain, meski lebih senior sekalipun.

Dalam operasi crane yang normal, tanggung jawab seorang rigger sering merangkap sebagai signal person. Namun di operasi yang lebih kompleks misalnya pengangkatan beban berat, multi-crane, atau kondisi blind lift signal person bisa merupakan personel tersendiri yang ditunjuk khusus.

Aturan yang tidak boleh dilanggar dalam pemberian hand signal:

  1. Hanya ada satu signal person yang aktif dalam satu operasi tidak boleh lebih
  2. Operator crane hanya mematuhi sinyal dari signal person yang telah diidentifikasi sebelum operasi dimulai
  3. Jika signal person tidak terlihat oleh operator, operasi harus dihentikan dan tidak boleh dilanjutkan sampai komunikasi terhubung kembali
  4. Jika signal person harus digantikan di tengah operasi, harus ada serah terima yang jelas dan disaksikan oleh operator crane
  5. Signal person yang sedang bertugas tidak boleh merangkap pekerjaan lain secara bersamaan

 

Syarat Kompetensi Signal Person yang Profesional

Menjadi signal person bukan sekadar berdiri di dekat beban dan melambaikan tangan. Ada persyaratan kompetensi yang harus dipenuhi, sebagaimana diatur dalam regulasi K3 dan standar ASME B30.

Persyaratan kompetensi signal person:

  • Memahami dan hafal semua standar hand signal yang berlaku (minimal 12 sinyal dasar ASME B30)
  • Mampu menilai kondisi lapangan secara real-time: posisi beban, zona bahaya, kondisi tanah, angin
  • Posisi selalu berada di tempat yang terlihat jelas oleh operator crane bukan bersembunyi di balik struktur
  • Menggunakan APD yang membedakannya dari pekerja lain: rompi warna mencolok (biasanya kuning atau oranye terang), helm warna khusus
  • Tidak mengerjakan tugas lain selama bertugas sebagai signal person
  • Memahami kapan harus menghentikan operasi secara darurat

Memahami keahlian wajib yang harus dimiliki rigger profesional termasuk kompetensi hand signal adalah fondasi karir di bidang lifting yang tidak bisa dilewati.

 

Daftar 12 Hand Signal Crane Standar (ASME B30 & Permenaker)

Berikut adalah 12 hand signal standar yang wajib dikuasai oleh setiap operator crane dan rigger. Setiap sinyal dilengkapi dengan deskripsi gerakan yang presisi agar bisa dipraktikkan langsung.

 

1. HOIST — Angkat Beban

Gerakan: Lengan direntangkan ke samping dengan jari telunjuk menunjuk lurus ke atas. Tangan diputar membentuk lingkaran kecil.

Makna: “Angkat hook atau beban ke atas.”

Ini adalah sinyal paling dasar. Gerakan memutar melambangkan perputaran drum hoist yang menggulung tali dan mengangkat beban. Operator crane merespons dengan menggerakkan hoist ke atas sampai sinyal STOP diberikan.

2. LOWER — Turunkan Beban

Gerakan: Lengan direntangkan ke samping dengan jari telunjuk menunjuk lurus ke bawah. Tangan diputar membentuk lingkaran kecil.

Makna: “Turunkan hook atau beban ke bawah.”

Kebalikan dari HOIST. Lingkaran ke bawah berarti mengulur tali hoist. Signal person harus memastikan area penurunan beban bebas dari personel sebelum memberikan sinyal ini.

3. STOP — Berhenti

Gerakan: Lengan direntangkan secara horizontal ke samping setinggi bahu dengan telapak tangan menghadap ke bawah. Tangan diam — tidak bergerak.

Makna: “Hentikan semua gerakan crane segera.”

STOP adalah sinyal yang paling sering digunakan dan paling penting untuk dikuasai. Setiap kali signal person perlu memeriksa kondisi, mengatur ulang posisi, atau mengomunikasikan sesuatu kepada tim lain — sinyal STOP harus diberikan terlebih dahulu.

4. EMERGENCY STOP — Berhenti Darurat

Gerakan: Kedua lengan direntangkan secara horizontal ke samping. Kedua telapak tangan menghadap ke bawah. Kedua tangan menyapu tajam ke bawah secara berulang-ulang dengan gerakan cepat dan tegas.

Makna: “Stop SEGERA — situasi darurat.”

Ini adalah sinyal paling kritis. Operator crane harus merespons sinyal ini lebih cepat dari sinyal STOP biasa — langsung menghentikan semua gerakan tanpa menunggu konfirmasi. Emergency Stop diberikan saat ada bahaya langsung: orang masuk ke zona bahaya, beban bergerak tidak terkendali, atau struktur terancam runtuh.

5. SWING — Putar Crane

Gerakan: Lengan direntangkan ke arah yang dituju, dengan jari telunjuk menunjuk ke arah rotasi yang diinginkan.

Makna: “Putar boom atau crane ke arah yang ditunjukkan jari.”

Jari yang menunjuk ke kanan berarti crane berputar ke kanan. Jari yang menunjuk ke kiri berarti crane berputar ke kiri. Signal person harus memastikan tidak ada halangan di jalur rotasi sebelum memberikan sinyal ini.

6. TRAVEL — Gerakkan Crane Maju/Mundur

Gerakan: Kedua tangan dikepalkan di depan tubuh setinggi pinggang. Kedua ibu jari menunjuk ke arah yang dituju. Kedua kepalan diputar ke depan secara bergantian seperti menggerakkan roda.

Makna: “Gerakkan seluruh unit crane (crawler atau roda) ke arah yang ditunjukkan.”

Sinyal ini digunakan untuk memindahkan posisi crane secara keseluruhan — bukan menggerakkan boom atau hoist. Biasanya digunakan pada mobile crane atau crawler crane.

7. BOOM UP — Naikkan Boom

Gerakan: Tangan mengepal dengan ibu jari mengarah tegak ke atas.

Makna: “Naikkan sudut boom (luffing up) — radius mengecil.”

Menaikkan boom berarti sudut boom terhadap horizontal bertambah besar, yang menyebabkan radius pengangkatan mengecil dan kapasitas angkat bertambah. Penting: perubahan sudut boom secara otomatis mengubah kapasitas angkat berdasarkan load chart.

8. BOOM DOWN — Turunkan Boom

Gerakan: Tangan mengepal dengan ibu jari mengarah tegak ke bawah.

Makna: “Turunkan sudut boom (luffing down) — radius membesar.”

Kebalikan dari BOOM UP. Menurunkan boom memperbesar radius dan mengurangi kapasitas angkat. Operator wajib mengecek load chart saat mengubah sudut boom selama operasi.

9. EXTEND BOOM — Panjangkan Boom

Gerakan: Kedua tangan dikepalkan. Kedua ibu jari menunjuk ke luar ke arah berlawanan (kiri dan kanan sekaligus).

Makna: “Perpanjang boom — telescoping out.”

Digunakan khusus pada telescopic crane. Memperpanjang boom meningkatkan jangkauan tetapi mengurangi kapasitas angkat. Selalu verifikasi load chart sebelum mengubah panjang boom.

10. RETRACT BOOM — Pendekkan Boom

Gerakan: Kedua tangan dikepalkan. Kedua ibu jari menunjuk ke dalam ke arah saling berhadapan (ke tengah).

Makna: “Pendekkan boom — telescoping in.”

Kebalikan dari EXTEND BOOM. Memendekkan boom mengurangi jangkauan tetapi meningkatkan kapasitas angkat.

11. MOVE SLOWLY — Gerakkan Perlahan

Gerakan: Tangan yang tidak memberikan sinyal utama diletakkan di atas tangan yang sedang memberikan sinyal lain.

Makna: “Lakukan gerakan yang sedang disinyalkan, tetapi dengan kecepatan sangat lambat.”

Sinyal ini adalah modifikasi yang bisa dikombinasikan dengan sinyal mana pun. Misalnya: MOVE SLOWLY + HOIST = angkat beban dengan kecepatan sangat lambat. Digunakan saat beban mendekati posisi tujuan, saat clearance sangat sempit, atau saat kondisi membutuhkan presisi tinggi.

 

12. DOG EVERYTHING / HOLD — Kunci Semua Gerakan

Gerakan: Kedua tangan saling menggenggam di depan tubuh.

Makna: “Kunci semua gerakan crane — tahan di posisi sekarang dan tunggu sinyal berikutnya.”

Berbeda dari STOP yang berarti hentikan gerakan yang sedang berlangsung, DOG EVERYTHING berarti semua sistem crane dikunci dan tidak ada gerakan apapun sampai sinyal baru diberikan. Digunakan saat signal person perlu mengevaluasi ulang situasi, saat pergantian signal person, atau saat perlu briefing cepat dengan tim.

Baca juga: Tugas Seorang Rigger

Ringkasan 12 Hand Signal dalam Tabel

No Nama Sinyal Gerakan Kunci Fungsi
1 HOIST Telunjuk atas, tangan melingkar Angkat beban ke atas
2 LOWER Telunjuk bawah, tangan melingkar Turunkan beban ke bawah
3 STOP Lengan horizontal, telapak bawah, diam Hentikan semua gerakan
4 EMERGENCY STOP Kedua lengan horizontal, sapu cepat ke bawah Hentikan darurat
5 SWING Lengan menunjuk arah rotasi Putar crane/boom
6 TRAVEL Kepalan memutar ke arah tujuan Gerakkan seluruh unit crane
7 BOOM UP Ibu jari ke atas Naikkan sudut boom
8 BOOM DOWN Ibu jari ke bawah Turunkan sudut boom
9 EXTEND BOOM Ibu jari ke luar (berlawanan) Panjangkan boom
10 RETRACT BOOM Ibu jari ke dalam (berhadapan) Pendekkan boom
11 MOVE SLOWLY Tangan di atas tangan sinyal lain Modifikasi: lakukan perlahan
12 DOG EVERYTHING Kedua tangan menggenggam Kunci semua gerakan

6 Kesalahan Fatal Komunikasi Hand Signal dan Solusinya

Meski terlihat sederhana, banyak insiden lifting yang dipicu oleh kesalahan dalam komunikasi hand signal. Berikut kesalahan yang paling sering terjadi dan cara mengatasinya:

  1. Sinyal tidak terlihat jelas oleh operator crane
    Signal person memberikan sinyal di area yang terhalangi struktur, silau cahaya, atau terlalu jauh. Aturan dasar, jika operator tidak bisa melihat signal person dengan jelas, operasi tidak boleh dilanjutkan.
  1. Dua orang memberikan sinyal berbeda secara bersamaan
    Ini adalah penyebab operator bingung dan berhenti  atau lebih berbahaya, salah memilih sinyal mana yang diikuti. Hanya ada satu signal person yang aktif dalam satu waktu.
  1. Posisi signal person berada di backlight
    Ketika signal person berdiri dengan cahaya terang (matahari, lampu sorot) di belakangnya, isyarat tangan menjadi siluet yang sulit dibaca operator. Signal person harus selalu memastikan kondisi pencahayaan kondusif.
  1. Menggunakan sinyal “lokal” atau variasi tidak standar
    Setiap lokasi kerja punya “kebiasaan” tersendiri  tapi kebiasaan itu tidak berlaku di lokasi lain. Menggunakan sinyal nonstandar memperkenalkan risiko miskomunikasi, terutama saat ada pergantian tim atau tenaga kerja baru.
  1. Signal person bergerak tanpa memberitahu operator
    Saat signal person berpindah posisi tanpa sinyal STOP terlebih dahulu, operator tidak tahu ke mana sinyal berikutnya akan datang. Sebelum berpindah posisi, selalu berikan sinyal STOP atau DOG EVERYTHING.
  1. Tidak memberikan sinyal STOP sebelum meninggalkan area
    Ketika signal person harus meninggalkan area sementara tanpa pengganti, operator tidak mendapat pemberitahuan dan bisa menunggu sinyal yang tidak kunjung datang — atau lebih berbahaya, melanjutkan gerakan atas inisiatif sendiri.

Baca juga: 10 Kesalahan Krusial dalam Lifting Plan dan Rigging Plan yang Harus Dihindari

Kapan Harus Beralih ke Komunikasi Radio dalam Lifting?

Hand signal adalah metode komunikasi utama dalam operasi lifting, namun ada kondisi di mana komunikasi radio (handheld radio atau headset) menjadi pilihan yang lebih tepat atau bahkan wajib:

  • Jarak terlalu jauh: Ketika signal person tidak bisa berada dalam jangkauan pandang operator secara langsung
  • Visibilitas sangat terbatas: Operasi malam hari, kabut tebal, atau hujan deras
  • Operasi blind lift: Pengangkatan beban yang tidak bisa dipantau langsung oleh operator
  • Multi-crane: Operasi dengan dua crane atau lebih yang bergerak secara bersamaan
  • Lingkungan offshore dengan angin kencang: Saat sinyal tangan sulit dibedakan dari kejauhan

Penting untuk diingat: meski komunikasi radio digunakan, penguasaan hand signal tetap wajib. Radio bisa rusak, baterai habis, atau frekuensi terganggu. 

Hand signal adalah sistem backup yang harus selalu siap digunakan. Memahami risiko dan tantangan bekerja sebagai operator crane termasuk kesiapan menghadapi kegagalan alat komunikasi adalah bagian dari kompetensi profesional.

sertifikasi rigger

Panduan Hand Signal Khusus untuk Operasi Lifting Offshore

Lingkungan offshore platform, FPSO, kapal supply  menghadirkan tantangan komunikasi yang lebih kompleks dibanding operasi darat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan khusus:

Jarak vertikal yang jauh: Pada pedestal crane di offshore platform, operator crane berada di ketinggian yang signifikan di atas deck. Sinyal tangan harus dibuat lebih besar dan tegas dibanding operasi darat.

Angin kencang: Di lingkungan laut terbuka, angin kencang bisa membuat pakaian atau rompi signal person berkibar sehingga mengganggu visibilitas sinyal. Penggunaan APD yang pas dan ketat di tubuh menjadi penting.

Protokol pre-lift meeting: Di lingkungan migas offshore, pre-lift meeting dalam perencanaan pengangkatan adalah wajib sebelum setiap operasi pengangkatan. Dalam pre-lift meeting, identitas signal person, sinyal yang akan digunakan, dan prosedur darurat harus dikomunikasikan kepada semua pihak yang terlibat.

Sinyal tambahan untuk offshore: Beberapa operasi offshore mengembangkan sinyal tambahan untuk kondisi spesifik seperti komunikasi dengan kapal di bawah platform. Namun, 12 sinyal dasar ASME B30 tetap menjadi fondasi yang wajib dikuasai.

Baca juga: 5 Syarat Utama untuk Dapat Bekerja di Platform Minyak Laut Dalam

Materi Hand Signal dalam Uji Kompetensi BNSP Operator & Rigger

Hand signal bukan hanya pengetahuan teknis lapangan ini adalah materi yang diuji secara formal dalam proses uji kompetensi BNSP. Baik untuk skema Operator Crane BNSP maupun Rigger (Juru Ikat) BNSP, penguasaan hand signal dinilai dalam sesi praktik di hadapan asesor.

Yang diuji dalam sesi hand signal:

  • Kemampuan mendemonstrasikan setiap sinyal dengan gerakan yang benar dan tegas
  • Kemampuan menginterpretasikan sinyal yang diberikan asesor secara akurat
  • Pemahaman tentang siapa yang berwenang memberikan sinyal dan dalam kondisi apa
  • Respons yang tepat terhadap sinyal STOP dan EMERGENCY STOP
  • Pemahaman tentang kondisi yang mengharuskan operasi dihentikan

Kesalahan dalam mendemonstrasikan atau menginterpretasikan hand signal selama uji kompetensi bisa menjadi dasar ketidaklulusan, meski aspek teknis lain dinilai baik. Kualifikasi inspektur crane pun mensyaratkan pemahaman mendalam tentang hand signal karena inspektur bertanggung jawab memverifikasi kompetensi operator di lapangan.

5 Tips Cepat Menghafal 12 Hand Signal Crane

Menghafal 12 sinyal sekaligus bisa terasa berat. Berikut pendekatan yang terbukti efektif:

1. Kelompokkan berdasarkan fungsi

  • Kelompok hoist (gerak vertikal): HOIST, LOWER
  • Kelompok rotasi: SWING, TRAVEL
  • Kelompok boom: BOOM UP, BOOM DOWN, EXTEND, RETRACT
  • Kelompok kontrol: STOP, EMERGENCY STOP, MOVE SLOWLY, DOG EVERYTHING

Menghafal per kelompok jauh lebih mudah daripada menghafal satu per satu.

2. Kaitkan gerakan dengan maknanya secara visual

  • HOIST = telunjuk ke atas + melingkar → bayangkan drum hoist yang berputar menarik tali ke atas
  • LOWER = telunjuk ke bawah + melingkar → drum mengulur tali ke bawah
  • EMERGENCY STOP = kedua tangan sapu cepat ke bawah → gerakan tegas yang mencerminkan urgensi

3. Latihan berpasangan

Minta rekan kerja untuk memberikan sinyal secara acak, kemudian identifikasi. Bergantian peran. Latihan berpasangan jauh lebih efektif dari hafalan sendiri.

4. Gunakan flashcard

Buat kartu kecil dengan nama sinyal di satu sisi dan deskripsi gerakan di sisi lain. Review 5 menit setiap pagi selama 2 minggu.

5. Simulasi di lapangan

Praktik langsung di area lifting dengan crane yang tidak sedang beroperasi. Posisikan satu orang sebagai signal person dan satu orang sebagai operator. Simulasikan komunikasi sinyal untuk berbagai skenario pengangkatan.

Baca juga: 5 Tips Membangun Karir yang Sukses sebagai Operator Crane, Inspektur Crane, dan Rigger

Kesimpulan

Hand signal crane bukan sekadar prosedur teknis yang tertulis di buku panduan. Ini adalah bahasa keselamatan yang menjadi jembatan antara signal person di lapangan dan operator crane di dalam kabin. Dua belas isyarat yang tampak sederhana ini adalah garis pertahanan utama terhadap miskomunikasi yang bisa berujung fatal.

Setiap operator crane dan rigger yang serius dengan keselamatan kerjanya wajib menghafal, memahami, dan mampu mendemonstrasikan 12 sinyal ini dengan benar  bukan hanya untuk lulus uji kompetensi BNSP, tetapi untuk menjaga keselamatan dirinya dan seluruh tim di area lifting.

Kuasai Kompetensi Lifting yang Aman Bersama Petrotraining Asia

Petrotraining Asia menyelenggarakan pelatihan dan uji kompetensi Operator Crane BNSP dan Rigger (Juru Ikat) BNSP yang mencakup materi hand signal, prosedur pre-lift meeting, dan simulasi komunikasi lapangan secara langsung.

✅ Materi hand signal sesuai ASME B30 dan Permenaker No. 8 Tahun 2020

✅ Sesi praktik simulasi lapangan bersama asesor berpengalaman

✅ Sertifikat BNSP diakui nasional dan vendor migas besar

👉 Lihat Jadwal Pelatihan Operator Crane & Rigger BNSP »

📞 Hubungi tim Petrotraining Asia untuk program in-house training hand signal dan K3 lifting khusus untuk perusahaan Anda.

FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Hand Signal Crane

  1. Apakah hand signal crane berbeda antara standar internasional dan Indonesia?
    Standar ASME B30 yang berlaku di Amerika Serikat dan banyak negara lainnya menjadi dasar hand signal yang digunakan secara internasional. Di Indonesia, Permenaker No. 8 Tahun 2020 mengadopsi standar ini dengan penyesuaian minor. Secara praktis, 12 sinyal dasar yang dibahas dalam artikel ini berlaku secara konsisten di hampir seluruh proyek migas dan konstruksi di Indonesia.
  1. Apakah ada sertifikasi khusus untuk signal person?
    Di Indonesia, kompetensi signal person umumnya tercakup dalam Sertifikasi Rigger BNSP. Seorang rigger yang telah tersertifikasi BNSP dinyatakan kompeten untuk menjalankan fungsi signal person dalam operasi lifting. Untuk operasi yang sangat kompleks, beberapa perusahaan migas mensyaratkan sertifikasi signal person tambahan sesuai standar perusahaan.
  1. Bisakah operator crane menggerakkan crane tanpa sinyal dari signal person?
    Tidak. Standar keselamatan internasional dan regulasi Indonesia secara tegas melarang operator crane menggerakkan crane berdasarkan inisiatif sendiri tanpa sinyal yang jelas dari signal person yang berwenang. Jika signal person tidak terlihat atau tidak memberikan sinyal, operator wajib menghentikan operasi dan menunggu bukan melanjutkan.
  1. Bagaimana jika signal person memberikan sinyal yang menurut operator tidak aman?
    Operator crane memiliki hak bahkan kewajiban untuk menolak melaksanakan instruksi yang menurutnya tidak aman. Operator harus memberikan sinyal STOP, menghubungi lifting supervisor, dan tidak melanjutkan operasi sampai situasi diklarifikasi.
  1. Apakah hand signal berlaku untuk semua jenis crane?
    Dua belas sinyal dasar ini berlaku untuk semua jenis crane mobile crane, overhead crane, pedestal crane, dan tower crane. Namun, beberapa jenis crane memiliki sinyal tambahan spesifik yang diatur dalam panduan operasi masing-masing.
  1. Apa yang harus dilakukan jika terjadi overswing saat operator salah mengartikan sinyal?
    Segera berikan sinyal EMERGENCY STOP. Setelah situasi aman, lakukan incident review untuk mengidentifikasi akar masalah apakah sinyal tidak jelas, posisi signal person tidak tepat, atau ada faktor lain. Setiap kejadian miskomunikasi harus didokumentasikan dan dilaporkan sebagai near miss.

 

referensi gambar : https://www.safetysign.co.id/news/20-Hand-Signal-Sesuai-Standar-Internasional-OSHA-ANSI-Sejauh-Mana-Anda-Memahaminya

Rate this post
Anda harus masuk untuk berkomentar.
Jakarta
Tamansari Hive Office 7th Floor Jl. D. I. Panjaitan Kav 2 RT 11 RW 12, Cipinang, Cempedak, Jatinegara, RT.11/RW.11, Cipinang Cempedak, Jatinegara, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13350
+628111798350
Jakarta
AMG Tower Lt. 17 B05 Jl. Raya dukuh menanggal 1A. Gayungan Surabaya jawa Timur 60234
+628111798354
Instagram
YouTube
Inquiry Welder SMAW Level I