Ilustrasi sumur minyak Prabumulih dengan menara bor dan wellhead

Komisioning Fasilitas Produksi Sumur Prabumulih 3.073 BOPD

Prabumulih, kota kecil di Sumatera Selatan yang identik dengan industri minyak, adalah salah satu mature field tertua dalam portofolio produksi Pertamina. Lapangan-lapangan di sini sudah berproduksi selama puluhan tahun. Dan seperti semua mature field, tantangan utamanya bukan lagi menemukan minyak, melainkan memperlambat laju penurunan produksi alami (natural decline) yang terus berjalan tanpa henti.

Natural decline pada lapangan tua bisa mencapai 15–30% per tahun jika tidak ada intervensi aktif. Artinya, tanpa pengeboran sumur baru atau program well service yang agresif, produksi lapangan bisa turun setengahnya dalam waktu tiga hingga empat tahun saja.

Inilah latar belakang mengapa tim Subsurface and Development Planning (SSDP) Zona 4 Pertamina terus mencari peluang pengembangan, termasuk melalui strategi sumur infill: mengebor sumur baru di antara sumur-sumur lama untuk menguras cadangan yang belum tersentuh di zona-zona reservoir yang belum optimal.

Dan pada awal 2026, strategi itu menghasilkan salah satu capaian paling menggembirakan: Sumur LBK-030 di Struktur Lembak Kemang Tapus Field.

Profil dan Spesifikasi Proyek Sumur LBK-030

Nama sumur: LBK-030 (pengembangan dari sumur asal LKT-024) Lokasi: Struktur Lembak Kemang Tapus Field, sisi timur laut Kota Prabumulih, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan Operator: PT Pertamina EP Prabumulih Field, Subholding Upstream Regional 1 Zona 4 (PHR Zona 4) Pengawas: SKK Migas Perwakilan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) Tajak (spud): 7 April 2026 Uji produksi (initial flow test): 9 Mei 2026 Reservoir target: Lapisan TAF-F Hasil uji alir awal: 3.073 BOPD + 1,65 MMSCFD (melalui natural flow pada kondisi open choke)

Dalam kalender proyek, dari spud ke initial flow test hanya berlangsung 32 hari, sebuah pencapaian efisiensi yang patut dicatat. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto secara langsung mengapresiasi keberhasilan ini sebagai bukti “disiplin operasional yang diterapkan di seluruh tahapan pekerjaan.”

Pengertian Natural Flow dan Manfaatnya dalam Produksi Migas

Hasil 3.073 BOPD dari LBK-030 dicapai melalui natural flow pada kondisi open choke, artinya minyak mengalir ke permukaan sepenuhnya karena tekanan reservoir yang cukup kuat, tanpa membutuhkan sistem pengangkatan buatan (artificial lift) seperti pompa angguk, Electric Submersible Pump (ESP), atau gas lift pada tahap awal produksi.

Ini adalah kondisi yang sangat menguntungkan dari perspektif ekonomi dan operasional:

Biaya operasi lebih rendah: Tidak ada energi listrik atau gas yang harus diinjeksikan untuk membantu mengangkat fluida ke permukaan. Biaya lifting per barel jauh lebih kompetitif.

Kompleksitas fasilitas permukaan lebih sederhana: Fasilitas wellhead dan flowline yang dibutuhkan lebih sederhana dibanding sumur yang sudah memerlukan artificial lift sejak awal.

Cadangan tekanan reservoir masih baik: Fakta bahwa sumur dapat natural flow menunjukkan bahwa lapisan TAF-F masih memiliki tekanan yang belum terdeplesi, ini mengindikasikan adanya cadangan yang signifikan untuk dieksploitasi.

Fenomena yang sama terjadi pada Sumur LBK-031 (sumur infill kelima di Struktur Lembak), yang pada uji alir 29 Juni 2026 menghasilkan 2.068 BOPD + 2,68 MMSCFD dari lapisan TAF-H, juga melalui natural flow.

Proses produksi dari hulu hingga pendistribusian minyak dan gas bumi yang optimal selalu berawal dari kondisi reservoir yang dipahami dengan baik, dan data LBK-030 memberikan gambaran yang sangat positif tentang potensi Struktur Lembak Kemang Tapus.

Inovasi High Resolution Stratigraphic Mapping di Lapangan Migas

Keberhasilan pengembangan sumur-sumur infill di Struktur Lembak bukan datang dari keberuntungan semata. Tim SSDP Zona 4 menerapkan pendekatan teknis yang inovatif: High Resolution Stratigraphic Mapping (HRSM).

HRSM adalah metode pemetaan lapisan batuan bawah permukaan (subsurface) dengan tingkat resolusi yang jauh lebih tinggi dari pemetaan konvensional. Dengan memahami geometri reservoir secara lebih detail, termasuk sebaran fasies batuan, batas lapisan, dan zona permeabilitas tinggi, tim subsurface dapat:

  • Menentukan lokasi optimal pengeboran sumur infill dengan lebih presisi
  • Mengidentifikasi volume hidrokarbon yang belum teruras (unswept reservoir) di antara sumur-sumur produksi lama
  • Memprediksi performa sumur lebih akurat sebelum pengeboran dimulai
  • Mengurangi risiko kegagalan pengeboran (drilling risk) secara signifikan

Dalam konteks pengembangan lapangan tua, pendekatan ini menjawab pertanyaan mendasar yang selalu dihadapi tim subsurface: “Dari ratusan hektar struktur yang sudah dieksplorasi bertahun-tahun, di mana persisnya minyak yang belum terambil itu berada?”

Jawaban HRSM yang presisi pada LBK-030 terbukti menghasilkan sumur dengan performa awal yang melampaui ekspektasi. Bukan kebetulan, ini adalah hasil metodologi yang tepat.

Baca juga: Tahapan Eksplorasi Migas: Inovasi Energi

Tahapan Komisioning Fasilitas Produksi Migas hingga Onstream

Dari perspektif operasional, angka 3.073 BOPD adalah hasil akhir yang terlihat. Tapi di balik angka itu ada serangkaian proses teknis yang harus dilalui, proses komisioning (commissioning) fasilitas produksi permukaan yang menentukan apakah hasil bawah tanah yang menjanjikan itu bisa benar-benar dialirkan ke tangki produksi.

Untuk sumur infill yang terhubung ke fasilitas permukaan eksisting seperti LBK-030, proses komisioning umumnya mencakup tahapan-tahapan berikut:

1. Pre-Commissioning: Verifikasi Awal Sebelum Aliran Pertama

Sebelum fluida dari sumur dibiarkan mengalir ke sistem fasilitas permukaan, seluruh jalur pipa dan peralatan harus diverifikasi:

  • Pressure test pada flowline dan wellhead, memastikan tidak ada kebocoran pada tekanan operasi yang direncanakan
  • Leak test pada semua flange, katup, dan sambungan, termasuk valve manual dan control valve
  • Kalibrasi instrumen, pressure transmitter, flow meter, level transmitter, dan sistem kontrol harus dikalibrasi sebelum digunakan
  • Verifikasi sistem safety*, Pressure Safety Valve (PSV), Emergency Shutdown Valve (ESDV), dan High Pressure Shut-Down (HPSD) harus diuji fungsi sebelum sumur dibuka

Peran instrumentasi dalam operasi migas pada tahap ini sangat kritis, sistem pengukuran yang tidak terkalibrasi akan menghasilkan data produksi yang tidak akurat, yang berdampak langsung pada custody transfer dan laporan SKK Migas.

2. Pre-Startup Safety Review (PSSR): Pemeriksaan Keselamatan

Sebelum startup pertama, dilakukan Pre-Startup Safety Review (PSSR), pemeriksaan keselamatan menyeluruh yang memastikan seluruh sistem sudah siap beroperasi dengan aman.

PSSR mencakup:

  • Verifikasi bahwa semua rekomendasi HAZOP (Hazard and Operability Study) sudah diimplementasikan
  • Pemeriksaan fisik fasilitas: tidak ada pipa yang tersumbat, semua valve pada posisi yang benar, semua sambungan terpasang
  • Verifikasi keberadaan dan kesiapan APD, peralatan fire fighting, dan emergency response
  • Konfirmasi bahwa personel yang bertugas sudah terlatih dan berkompeten untuk mengoperasikan sistem baru

HAZOP adalah alat identifikasi bahaya yang penting khususnya saat fasilitas produksi baru akan dioperasikan untuk pertama kalinya, skenario risiko yang berbeda dari operasi rutin harus diidentifikasi dan dimitigasi sebelum first flow.

3. Initial Flow Test: Pengujian Laju Alir Awal Sumur

Inilah momen yang menghasilkan angka 3.073 BOPD pada LBK-030: initial flow test atau well test.

Selama uji alir, sumur dibiarkan mengalir ke test separator, peralatan khusus yang memisahkan fluida wellstream menjadi tiga fasa: minyak, gas, dan air. Data yang dikumpulkan meliputi:

  • Gross flow rate total fluida
  • Oil rate (BOPD), volume minyak per hari
  • Gas rate (MMSCFD), volume gas per hari
  • Water cut, persentase air dalam total fluida
  • Wellhead pressure (WHP) dan tubing head temperature (THT)
  • Flowing tubing head pressure (FTHP) pada berbagai choke size

Hasil uji alir awal LBK-030 pada open choke (choke dibuka penuh) menghasilkan 3.073 BOPD. Angka ini adalah potensi maksimum pada kondisi tersebut, dalam operasi reguler, choke akan diatur untuk mencapai laju produksi yang optimal dan berkelanjutan.

4. Tie-In: Penyambungan Flowline ke Fasilitas Eksisting

Untuk sumur infill seperti LBK-030, langkah kritis berikutnya adalah tie-in, menghubungkan flowline sumur baru ke fasilitas permukaan eksisting yang sudah beroperasi. Ini biasanya dilakukan melalui Stasiun Pengumpul (SP) atau manifold terdekat.

Tantangan teknis dalam tie-in ke fasilitas aktif:

  • Harus dilakukan dengan isolasi yang ketat untuk mencegah kebocoran gas atau minyak ke area kerja
  • Prosedur hot tapping atau cold tie-in tergantung kondisi, keduanya memerlukan Permit to Work (PTW) khusus
  • Perlu perhitungan kapasitas fasilitas eksisting: apakah separator, pumping, dan storage di SP sudah bisa mengakomodasi tambahan produksi dari LBK-030?
  • Sistem pengukuran (metering) harus disesuaikan untuk mengakomodasi tambahan aliran

Peralatan wajib di fasilitas produksi migas yang harus diperbarui atau ditambah kapasitasnya saat tie-in meliputi separator, tangki produksi, dan sistem pengukuran fiskal.

Baca juga: 9 Tahapan Utama dalam Proses Produksi Minyak dan Gas Bumi

5. Ramp-Up dan Optimasi Produksi Berkelanjutan

Setelah tie-in selesai dan sumur dinyatakan siap beroperasi secara komersial, fase ramp-up dimulai: produksi ditingkatkan secara bertahap sambil memantau performa reservoir dan fasilitas permukaan.

Selama ramp-up:

  • Choke dibuka secara bertahap sesuai ramp-up schedule yang sudah direncanakan
  • Data well performance, tekanan dan laju produksi, dipantau secara ketat untuk mendeteksi water breakthrough atau anomali reservoir lebih awal
  • Parameter drawdown dioptimalkan untuk memaksimalkan produksi jangka panjang tanpa merusak permeabilitas reservoir

Kontribusi Produksi Sumur LBK-030 terhadap Target Nasional

Untuk memahami signifikansi LBK-030 dalam konteks lebih luas, berikut angka-angka yang relevan:

Target produksi Pertamina EP Prabumulih Field 2026:

  • Minyak: 9.519 BOPD
  • Gas: 99 MMSCFD

Kontribusi LBK-030:

  • 3.073 BOPD = ~32% dari target minyak lapangan

Satu sumur infill menyumbang sepertiga dari target produksi minyak lapangan, ini adalah angka yang sangat signifikan dan menggambarkan betapa kritisnya setiap keberhasilan pengeboran dalam strategi production maintenance lapangan tua.

Jika ditambah LBK-031 (2.068 BOPD), kedua sumur infill ini bersama-sama menyumbang ~54% dari target minyak lapangan, lebih dari setengahnya hanya dari dua sumur baru.

Konteks nasional:

PHR Zona 4 mengoperasikan tujuh wilayah kerja di Sumatera Selatan, tersebar di dua kota (Prabumulih dan Palembang) dan sembilan kabupaten. Pencapaian setiap lapangan berkontribusi pada target SKK Migas untuk menjaga produksi minyak nasional menuju target lifting 1 juta BOPD.

Baca juga: Peta Jalan Eksplorasi Migas Indonesia

Peran SDM Kompeten dalam Komisioning Fasilitas Produksi

Angka dan metodologi teknis hanya bisa dieksekusi dengan baik jika ada satu elemen yang sering diremehkan: sumber daya manusia yang kompeten.

Proses komisioning fasilitas produksi baru melibatkan setidaknya beberapa profesi kritis:

Operator Produksi: Mereka yang pertama kali membuka choke sumur pada initial flow test, memantau parameter wellhead selama ramp-up, dan melaporkan anomali produksi. Kompetensi operator produksi bersertifikat BNSP mencakup pemahaman tentang well control, pembacaan instrumentasi, dan prosedur darurat.

Teknisi Instrumentasi: Bertanggung jawab memastikan semua sensor, transmitter, dan sistem kontrol berfungsi akurat sebelum startup. Data yang salah dari instrumen yang tidak terkalibrasi bisa menyebabkan keputusan operasi yang keliru, atau, dalam kasus safety instrumented system, bisa gagal menghentikan proses saat seharusnya.

Pengawas Produksi: Memimpin tim operator lapangan, memastikan semua prosedur diikuti, dan bertanggung jawab atas keselamatan dan efisiensi operasi selama fase komisioning.

Lifting Engineer / Production Engineer: Merancang program ramp-up, menganalisis data well test, dan menentukan strategi optimasi produksi jangka panjang.

Inspeksi dan audit keselamatan dalam operasi migas juga harus dilakukan oleh personel yang kompeten dan terlatih, bukan hanya formalitas, tetapi pertahanan nyata terhadap risiko operasional saat fasilitas baru mulai beroperasi.

Konsultasi pelatihan dan sertifikasi K3 migas bersama Petro Training Asia
Konsultasi pelatihan dan sertifikasi K3 migas bersama Petro Training Asia

6 Pelajaran Kritis dari Komisioning LBK-030

Studi kasus LBK-030 mengandung pelajaran yang relevan untuk semua tim produksi yang menghadapi tantangan serupa, baik di lapangan baru maupun di mature field yang membutuhkan strategi pengembangan segar:

1. Data Subsurface Presisi Adalah Investasi Utama

Penerapan High Resolution Stratigraphic Mapping oleh tim SSDP Zona 4 membutuhkan investasi waktu dan sumber daya, tetapi hasilnya adalah lokasi sumur yang sangat akurat dengan hasil yang melampaui ekspektasi. Dalam industri di mana biaya pengeboran satu sumur bisa mencapai puluhan juta dolar, presisi subsurface adalah asuransi terbaik terhadap kegagalan.

Pelajaran: Jangan pernah menganggap pekerjaan subsurface sebagai pengeluaran yang bisa dipotong. Kualitas analisis geologi dan geofisika menentukan apakah mata bor akan menemukan minyak atau hanya air dan pasir.

2. Potensi Cadangan Hidrokarbon di Mature Field

Struktur Lembak bukanlah lapangan baru, area ini sudah diproduksikan selama bertahun-tahun. Namun dengan pendekatan yang tepat, lapisan TAF-F dan TAF-H masih menyimpan tekanan reservoir yang cukup kuat untuk mendukung natural flow lebih dari 3.000 BOPD.

Pelajaran: Cadangan yang belum teruras (unswept reserves) di mature field seringkali lebih besar dari yang diperkirakan. Dengan teknologi subsurface modern dan strategi sumur infill yang tepat, lapangan tua bisa terus berkontribusi secara signifikan.

3. Efisiensi dan Kecepatan Eksekusi Pengeboran

Dari spud 7 April hingga initial flow test 9 Mei, 32 hari. Untuk sebuah sumur infill dengan persiapan yang baik, ini adalah waktu yang efisien. Setiap hari produksi yang lebih cepat berarti penerimaan yang lebih cepat, dan dalam konteks target produksi nasional, ini bukan sekadar angka finansial tetapi kontribusi nyata terhadap ketahanan energi.

Pelajaran: Disiplin operasional, perencanaan yang matang, eksekusi yang terkoordinasi, dan respons cepat terhadap tantangan di lapangan, adalah fondasi kecepatan eksekusi. Ini tidak bisa diimprovisasi saat proyek sudah berjalan.

4. Perencanaan Kapasitas Fasilitas Sebelum Tie-In

Menambahkan produksi 3.073 BOPD ke jaringan yang sudah ada bukan perkara sederhana. Kapasitas separator, pompa transfer, storage, dan sistem pengukuran harus dievaluasi sebelum tie-in dilakukan, bukan saat tie-in sudah di tengah jalan.

Pelajaran: Evaluasi kapasitas fasilitas eksisting (debottlenecking study) adalah langkah yang harus dilakukan sebelum pengeboran dimulai, bukan setelah sumur sudah menghasilkan.

5. Penerapan Pre-Startup Safety Review yang Ketat

Pre-Startup Safety Review yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar mencentang kotak di checklist, adalah perbedaan antara komisioning yang berjalan mulus dan yang berakhir dengan insiden. Ini berlaku terutama untuk personel yang baru pertama kali menangani fasilitas baru.

Pelajaran: PSSR harus melibatkan semua fungsi yang terlibat: operasi, maintenance, safety, dan instrumentasi. Satu detail yang terlewat bisa menjadi single point of failure yang mengorbankan seluruh proses.

6. Kompetensi Tenaga Kerja Kunci Keberhasilan

Teknologi terbaik dan metodologi paling canggih tetap bergantung pada manusia yang mengeksekusinya. Operator produksi yang tidak memahami prosedur startup, teknisi instrumentasi yang tidak bisa mendeteksi anomali kalibrasi, atau pengawas yang tidak terlatih membaca tanda-tanda bahaya awal, semuanya bisa mengubah proyek yang menjanjikan menjadi insiden.

Pelajaran: Investasi dalam sertifikasi dan pelatihan operator, teknisi, dan pengawas produksi bukan biaya tambahan, ini adalah prasyarat untuk mengubah potensi reservoir menjadi produksi aktual yang aman dan berkelanjutan.

Baca juga: Mengenal Peran dan Tanggung Jawab Operator Produksi

Optimasi Produksi Migas Pasca-Komisioning

Commissioning yang berhasil hanyalah gerbang pembuka. Setelah sumur onstream, tugas tim produksi beralih ke optimasi jangka panjang:

Pemantauan decline curve: Laju produksi akan turun secara alami seiring berjalannya waktu. Tim harus memantau dan memproyeksikan kurva penurunan ini untuk menentukan kapan artificial lift perlu diinstall atau intervensi sumur (well service) diperlukan.

Manajemen tekanan: Tekanan reservoir yang baik saat initial flow test tidak berarti akan bertahan selamanya. Program pressure monitoring yang ketat membantu menentukan strategi produksi yang memaksimalkan ultimate recovery.

Analisis water cut: Saat produksi air mulai meningkat, tim harus mempertimbangkan program water shut-off atau conformance treatment untuk mempertahankan efisiensi produksi.

Strategi well service: Pertamina EP Prabumulih Field menegaskan komitmen untuk melakukan well service terjadwal sebagai bagian dari strategi mempertahankan produksi. Ini mencakup stimulation (seperti acidizing), pembersihan tubing, dan reperforasi zona baru.

Panduan karir untuk pekerja di industri minyak dan gas yang ingin terjun ke bidang produksi menunjukkan bahwa memahami siklus hidup sumur, dari komisioning hingga late life, adalah kompetensi fundamental yang membedakan operator biasa dari operator profesional.

Baca juga: Kualifikasi, Tugas, dan Gaji Operator Migas di Indonesia

Pengembangan Sumur Infill dan Program Berikutnya

LBK-030 bukan satu-satunya keberhasilan Pertamina EP Prabumulih Field di tahun 2026. Sumur LBK-031, sumur infill kelima di Struktur Lembak, juga berhasil dibor dalam 52 hari (9 Mei – 29 Juni 2026) menggunakan Rig PDSI #43.3/AB-1500E hingga kedalaman 2.250 mMD (2.060,26 mTVD), dan menghasilkan 2.068 BOPD + 2,68 MMSCFD dari lapisan TAF-H.

Kedua sumur, LBK-030 dan LBK-031, menggunakan pendekatan pengeboran directional (berarah) untuk menjangkau target reservoir yang optimal tanpa harus memindahkan rig ke lokasi baru.

Sebagai kelanjutan, Pertamina EP Prabumulih Field juga telah mengagendakan pengeboran Sumur LKT-023 pada triwulan ketiga 2026, menunjukkan bahwa program pengembangan ini bukan keberhasilan satu kali, melainkan bagian dari strategi berkelanjutan untuk mengoptimalkan potensi Struktur Lembak.

Kompetensi Utama Tim Komisioning Fasilitas Produksi Migas

Untuk menjadi bagian dari tim yang mengeksekusi komisioning fasilitas produksi baru, atau untuk memahaminya lebih dalam sebagai calon profesional migas, berikut kompetensi teknis yang relevan:

Untuk Operator Produksi:

  • Prosedur startup dan shutdown sumur dan peralatan permukaan
  • Pembacaan dan interpretasi parameter instrumentasi: tekanan, temperatur, laju alir
  • Prosedur well test dan pengambilan data produksi
  • Penanganan abnormal operations dan eskalasi darurat
  • Pengoperasian separator, pompa, dan storage

Untuk Teknisi Instrumentasi:

  • Kalibrasi dan verifikasi field instruments: transmitter, control valve, safety valve
  • Pengujian sistem Safety Instrumented System (SIS) dan Emergency Shutdown System (ESD)
  • Loop check pada sistem kontrol sebelum startup
  • Pemeliharaan preventif instrumen produksi

Untuk Pengawas Produksi:

  • Pengelolaan Permit to Work (PTW) selama fase komisioning
  • PSSR: metodologi dan standar yang berlaku
  • Manajemen risiko operasional di fasilitas baru
  • Koordinasi multi-fungsi: operasi, maintenance, HSE, dan engineering

Peran Penting Produksi Migas bagi Ketahanan Energi

Tiga ribu tujuh puluh tiga barel per hari. Di lapangan minyak berskala global, angka ini mungkin terlihat kecil. Tapi dalam konteks Indonesia, dengan target lifting 1 juta BOPD yang masih terus dikejar, dan dengan cadangan yang semakin dalam dan tekanan produksi yang semakin menantang, setiap BOPD yang berhasil ditambahkan dari sumur baru adalah kontribusi nyata.

Keberhasilan LBK-030 di Prabumulih adalah bukti bahwa dengan metodologi subsurface yang tepat, disiplin operasional yang konsisten, dan tim yang kompeten di setiap tahapan, mature field bisa terus memberikan kontribusi yang signifikan.

Dan di balik angka 3.073 BOPD itu, ada operator yang membuka choke pertama kali dengan prosedur yang benar, teknisi yang memastikan setiap instrumen terkalibrasi, dan pengawas yang memastikan semua orang pulang ke rumah dengan selamat.

Program Pelatihan Operator dan Teknisi Produksi Migas

Petrotraining Asia menyelenggarakan pelatihan dan sertifikasi untuk profesi-profesi kritis dalam operasi dan komisioning fasilitas produksi migas:

  • Operator Produksi Migas BNSP, kompetensi startup, monitoring, dan shutdown fasilitas produksi
  • Pengawas Operasi Produksi BNSP, manajemen operasi lapangan dan keselamatan
  • Teknisi Instrumentasi Migas BNSP, kalibrasi, loop check, dan pemeliharaan sistem kontrol

✅ Kurikulum sesuai SKKNI dan standar SKK Migas ✅ Trainer praktisi berpengalaman di lapangan produksi Indonesia ✅ Tersedia Kelas Publik dan In-house Training di lokasi fasilitas

Pelajari Program Pelatihan Produksi Migas »

Hubungi tim Petrotraining Asia untuk konsultasi kebutuhan pelatihan tim produksi Anda.

Rate this post

Bagikan:

Anda harus masuk untuk berkomentar.
Jakarta
Tamansari Hive Office 7th Floor Jl. D. I. Panjaitan Kav 2 RT 11 RW 12, Cipinang, Cempedak, Jatinegara, RT.11/RW.11, Cipinang Cempedak, Jatinegara, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13350
+628111798350
Jakarta
AMG Tower Lt. 17 B05 Jl. Raya dukuh menanggal 1A. Gayungan Surabaya jawa Timur 60234
+628111798354
Instagram
YouTube
Inquiry Welder SMAW Level I