PetroNews: Analisis Tentang Bagaimana Covid-19 Mempengaruhi Produksi Migas

Minyak bumi adalah bahan baku untuk produksi bahan bakar minyak, bensin, dan produk-produk kimia lainnya. Sumber energi yang memiliki persentase signifikan terhadap konsumsi energi di dunia. Walaupun saat ini sumber energi terbarukan banyak digerakkan, namun kebutuhan akan minyak di dunia tidak dapat diabaikan.

Sejak tahun 2000an, kebutuhan akan minyak mentah terus mengalami peningkatan, sedangkan mulai tahun 2014, harga minyak dunia mulai menurun karena lambatnya aktivitas ekonomi dunia. Namun, Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) tetap memutuskan untuk tidak mengurangi tingkat produksi. Pada bulan Februari 2016 harga minyak sentuh titik terendah selama 13 tahun. Namun, perlahan mulai pulih sebelum terjadi pandemi COVID-19 di dunia.

Pandemi COVID-19 di tahun 2020 membuat industri minyak kembali mengalami penurunan harga dan penuruan permintaan. Semua aktivitas dilakukan di rumah, membuat kebutuhan akan bahan bakar minyak (BBM) untuk transportasi berkurang secara signifikan.

Permintaan minyak mentah yang sudah mulai menurun sejak kuartal 1 sampai kuartal 2, kemudian mengalami kesetimbangan di akhir kuartal 3 di tahun 2020. Akibat dari penurunan tersebut membuat stok minyak mentah yang cukup besar karena produksi minyak tidak mungkin diturunkan seketika. Namum permasalahan minyak bukan hanya dari menurunnya permintaan, tetapi juga diikuti penurunan harga yang curam bahkan hingga mencapai titik terendah. Dampak pandemi global ini membuat fenomena langka pada harga minyak yang dijual pada harga minus. Penutupan dan pemberhentian operasi kilang minyak di beberapa negara bahkan sudah terjadi sejak Maret 2020 lalu.

Selain industri minyak, industri gas bumi juga terpengaruh oleh pandemi COVID-19. Namum penurunan permintaan gas bumi tidak separah permintaan minyak bumi. Hal ini dapat dijelaskan karena penurunan permintaan minyak bumi terbesar dari berkurangnya aktivitas masyarakat di luar rumah sehingga kebutuhan akan bahan bakar minyak (BBM) untuk transportasi turun secara tajam. Selain itu, penggunaan gas untuk rumah tangga juga meningkat akibat banyaknya aktivitas masyarakat di rumah. Alasan lainnya adalah penghentian produksi dan distribusi gas tidak semudah penghentian dan distribusi minyak bumi.

Dampak terhadap industri minyak dan gas bumi Indonesia

Industri minyak dan gas di Indonesia juga terdampak COVID-19. Sama dengan yang terjadi di dunia, akibat semua aktivitas dilakukan di rumah, permintaan akan bahan bakar minyak mengalami penurunan yang drastis. Pada kuartal 1 2020 produksi migas di Indonesia masih berlangsung baik. Namun, tidak ada jaminan untuk kuartal-kuartal selanjutnya. Beberapa perusahaan hulu migas mengajukan force majeure untuk kegiatan eksplorasi maupun produksi. Di sisi hilir pun sudah mulai terpengaruh, Pertamina mulai menghentikan kegiatan kilang minyak.

Meskipun di banyak negara harga BBM telah turun, namun, sampai saat ini harga BBM di Indonesia, belum mengalami perubahan. Harga minyak yang masih stabil di Indonesia tidak membuat industri minyak dan gas mengalami kenaikan pendapatan. Hal tersebut karena diikuti dengan penurunan volume penjualan yang cukup besar.

Kesenjangan antara penurunan produksi migas di Indonesia dengan peningkatan konsumsi yang sudah terjadi selama ini di atasi dengan memperbesar impor. Namum sejak tahun 2008, Indonesia sudah mulai mengembangkan bahan bakar nabati yang dikenal dengan istilah biodiesel.

Synergy Solusi member of Proxsis Group membantu perusahaan dalam meningkatkan kompetensi bagi para personel di bidang minyak dan gas khususnya untuk melakukan penangan tumpahan minyak, diselenggarakan dengan berbagai metode pelatihan dan faislitas yang menunjang hingga mendapatkan pengukuhan dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

 

Sumber:

The Indonesian Journal of Development Planning Volume IV No. 2 – Juni 2020

Bagikan:

You must be logged in to post a comment.
Menu

    ×