INDONESIA MULAI MENJAGA ASET MIGAS NASIONAL

Blok Mahakam yang terletak di delta sungai Mahakam, Kalimantan Timur, menjadi penghasil gas bumi terbesar di Indonesia sehingga menjadi rebutan banyak pihak. Selama mengoperasikan blok itu, total dan Inpex diperkirakan telah menyedot 19,7 triliun kaki kubik gas dan 1,1 triliun barrel minyak. Berdasarkan perkiraan, Blok Mahakam kini masih menyisakan cadangang 57 juta barel minyak (Million Barel Oil/MMBO), 45 juta barel kondensat, dan 4,9  triliun standar kaki kubik (Triliun Standard Cubic Feet/TSCF).

Mahakam menghasilkan gas terbanyak dengan pencapaian di semester I/2017 sebanyak 1.504 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) atau 20% dari total produksi nasional. Sementara itu, realisasi produksi minyak di semester pertama 2017 sebanyak 55 ribu barel minyak per hari,  berada di urutan keempat dari daftar produsen minyak nasional.

Setelah 50 tahun beroperasi di bawah keloka asing yaitu Total E&P Indonesia dan Inpex Corporation akhirnya beralih ke tangan pemerintah pada awal tahun 2018. Proses peresmian serah terima pengelolaan blok Mahakam diawali dengan penyerahan kembali pengelolaan blok Mahakam dari Total E&P kepada Pemerintah yang dalam hal ini diwakili Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi, untuk selanjutnya diserahkan kepada PT Pertamina (Persero) yang diwakili oleh Direktur Hulu Syamsu Alam.

Pertamina adalah BUMN yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mengelola blok Mahakam selama 20 tahun yaitu sejak 1 Januari 2018 hingga 31 Desember 2038. Untuk mengelola Blok ini Pertamina mengeluarkan dana US$ 1,8 miliar, US$ 700 juta  digunakan untuk investasi dan US$ 1-1,1 juta untuk biaya operasi. Langkah pemerintah tersebut bagian dari strategi untuk menjaga aset migas nasional dan memenuhi kebutuhan dalam negeri supaya tidak ketergantungan pada impor gas.

Sementara itu, Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam menyampaikan, selama masa peralihan Pertamina telah melakukan berbagai upaya dan koordinasi dengan semua pihak terkait.  Pengelolaan dilaksanakan dengan tetap menjaga produksi blok Mahakam yang telah melewati masa puncak produksi reservoirnya pada periode 2003-2009, mengontrol biaya operasi dan tetap mengedepankan QHSSE (Quality, Health, Safety, Security and Environment) dalam operasionalnya.

Pertamina berhasil menekan biaya pengeboran sumur hingga 23 persen lebih efisien terhadap rencana anggaran, catatan waktu pengeboran lebih cepat hingga 25 persen, potensi penambangan cadangan hingga 120 persen, dan penambahan ketebalan reservoir sebesar 115 persen. Pertamina juga memperoleh pelaksanaan mirroring contract atas persetujuan SKK Migas untuk percepatan kontrak dengan pihak ketiga penunjang Blok Mahakam senilai US$ 1,2 miliar. Bambang juga mengatakan, untuk mengelola blok, PHI ini telah melakukan berbagai strategi dan persiapan supaya produksi migas di Blok Mahakam tetap terjaga.

Sumber: esdm.go.id

Bagikan:

You must be logged in to post a comment.
Menu


    ×