Bahaya Gas H2S di Industri Migas

Bahaya Gas H2S dapat terjadi ketika menghirup udara yang terkontaminasi gas H₂S terlalu lama kemudian dapat menyebabkan olfactory fatigue atau penurunan fungsi indera penciuman. Di industri minyak bumi dan gas, pabrik pengolahan kertas, dan pabrik petrokimia, H₂S dapat menjadi masalah yang serius dan membahayakan. Dalam aktivitas pengeboran dan/atau produksi sangat berpotensi menghasilkan gas H₂S yang sangat berbahaya bila terhirup oleh pekerja. Udara panas di sekitar dapat memperparah risiko paparan gas H2S. Bila terhirup, gas H₂S dapat menjadi “silent killer” bagi pekerja.

H₂S adalah gas beracun yang tidak berwarna, berbau menyengat seperti telur busuk, dan juga lebih berat daripada berat udara. Oleh karena itu, H₂S sering disebut juga gas telur busuk, gas asam, asam belerang atau uap bau. 

Kecelakaan yang terjadi akibat Bahaya gas H2S:

Pada tahun 1814, tiga pekerja galian di Cumberland, Kentucky tewas akibat terpapar gas H2S. Awalnya, para pekerja tersebut hanya menggali untuk mendapatkan air, ternyata lubang tersebut menyemburkan minyak dan gas, yang mengandung gas H2S. Ketiga pekerja menghirup gas H2S yang terlepas ke udara sekitar dengan konsentrasi yang cukup tinggi.

Pada 10 September 2009, lima karyawan bekerja di lokasi sumur gas alam nonproduktif, untuk Chipco, LLC, sebuah perusahaan jasa sumur gas, mengalami kecelakaan kerja yang berkaitan dengan bahaya H2S. Saat itu sumur dalam keadaan ditutup dan ditinggalkan, dan materialnya harus diselamatkan. Seorang karyawan berlari untuk menarik material, namun kantong hidrogen sulfida terpapar dari bagian atas pipa. Karyawan mengalami sesak napas dan meninggal. Seorang rekan kerja yang bekerja di dekatnya mengalami sesak napas tetapi tidak terbunuh. Tiga karyawan lainnya lari ke lokasi tetapi tidak dapat membantu karena mereka lumpuh oleh gas. Pemilik Chipco, LLC mengetahui keberadaan hidrogen sulfida di situs sumur khusus ini. . Dia telah diberitahu oleh perwakilan dari Northcoast Energy (pemilik sebelumnya) bahwa sumur ini ditutup karena mengandung hidrogen sulfida. Ia juga mengamati korosi di sekitar kepala sumur yang merupakan indikator adanya H2S. Namun, pemilik tidak menyediakan gas tester di area sumur tersebut pada hari kejadian. Para karyawan tidak diberikan respirator dengan tipe yang sesuai. Tanda-tanda tidak dipasang di situs untuk menunjukkan adanya gas H2S.

Sifat-sifat bahaya gas H2S:

Fisik Umumnya berupa gas
Bahaya Sangat beracun

  • Tingkat bahaya kesehatan menurut NFPA 704 adalah skala 3 (sangat berbahaya)
  • Batas aman untuk 12 jam adalah 2,5 ppm atau batas aman untuk 8 jam adalah 5 ppm (ACGIH 2010).

Mudah terbakar

  • Tingkat kemudahan untuk terbakar menurut NFPA adalah skala 4 (dapat meledak)
  • Karena lebih berat dari udara, H₂S  dapat menjalar sangat jauh dan jika kontak dengan sumber api dapat menyebabkan “flash back” atau api bisa menjalar kembali ke sumber gas

Korosif

Korosif terhadap besi (Fe), tembaga (Cu), dan Beton

Warna Tidak berwarna
Bau Berbau seperti telur busuk

  • Dalam konsentrasi yang rendah, baunya mudah dikenali
  • Efeknya membuat pusing, mual, gangguan penciuman, gangguan penglihatan hingga hilangnya kesadaran
  • Jangan mengandalkan penciuman untuk mendeteksi keberadaan dan tingkat konsentrasi gas H₂S. Sebab, bila Anda menghirup gas H₂S terlalu lama, Anda akan mengalami olfactory fatigue atau kelelahan penciuman.
Massa jenis Lebih berat daripada udara
Kelarutan Mudah menguap apabila cairan tersebut dipanaskan atau terganggu kestabilannya

Terbentuknya gas H2S

Gas H₂S terbentuk dari dekomposisi atau pembusukan oleh bakteri terhadap bahan-bahan organik (binatang atau tumbuh-tumbuhan). Dapat dihasilkan di dataran rendah dan di daerah dengan kadar oksigen rendah, seperti rawa-rawa dan gunung berapi.

Pada pekerjaan eksplorasi minyak dan gas, bakteri tumbuh di bawah endapan kedap dengan kadar oksigen rendah dan menghasilkan senyawa pembusukan. Sedangkan dalam pekerjaan pengeboran, gas H₂S terbentuk dari semacam belerang yang mengandung cairan tambahan pengeboran, dan juga bakteri pembusukan dari sulfat di dalam lumpur pengeboran yang mengalami penurunan panas (di atas suhu 375° Fahrenheit).

 Mengapa Gas H2S Bisa Sangat Berbahaya?

Umumnya, gas H₂S dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalu sistem pernapasan. Ukuran partikel gas H₂S yang kecil dapat dengan mudah masuk ke dalam saluran pernapasan. Paparan H₂S ini bisa saja terserap kulit, namun kemungkinannya sangat kecil.

Ketika bernapas, gas H₂S akan terhirup ke dalam paru-paru bersama udara. Jika konsentrasi gas H₂S kurang dari 100 ppm, maka akan terdeteksi bau telur busuk. Sedangkan, jika konsentrasi gas H₂S di atas 100 ppm efeknya menurunkan fungsi indera penciuman. Bila hal tersebut terjadi, maka gas H2S tidak lagi dapat terdeteksi dengan indera penciuman. Jika berlangsung lama, secara cepat gas tersebut mengalir ke dalam aliran darah, dan menimbulkan keracunan. Sebab, tubuh tidak dapat mengoksidasi atau memecah belah H₂S menjadi senyawa yang tidak berbahaya.

Jika terjadi keracunan H₂S akan mengalami kelumpuhan saraf pusat di otak yang bertugas mengontrol paru-paru, sehingga paru-paru berhenti bekerja dan berujung pada sesak nafas. Gas H₂S yang bercampur dengan air di paru-paru juga dapat membentuk zat asam lemah.  Asam lemah dapat menyerang pembuluh darah, sehingga bisa merusak jaringan di sekelilingnya dan mengakibatkan pembengkakan paru-paru dan merusak saluran pernapasan.

Efek terhadap kesehatan akibat terpapar gas H₂S bervariasi tergantung pada durasi paparan, frekuensi terkena paparan, dan besarnya konsentrasi paparan. Efek bila terpapar dengan konsentrasi rendah, antara lain:

  • Mata seperti terbakar
  • Sakit kepala atau pusing
  • Kelelahan
  • Hilangnya kemampuan penciuman
  • Rasa kering pada hidung, tenggorokan, dan dada
  • Batuk-batuk
  • Kulit terasa perih
  • Untuk penderita asma mungkin mengalami kesulitan bernapas

Jika pekerja terkena paparan H₂S berkepanjangan dan konsentrasi tinggi bisa menyebabkan radang mata, sakit kepala, mual, muntah, mudah marah, insomnia, gangguan pencernaan, penurunan berat badan, dan iritasi pernapasan.

Synergy Solusi Indonesia member of Proxsis melalui Petrotraining Asia, membantu perusahaan dalam mengembangkan kompetensi personel serta program-program K3 khususnya penanganan Bahaya gas H2S di Industri Migas guna mendukung program zero accident pada tahun 2020.

 

Sumber: www.SafetySign.co.id

Bagikan:

You must be logged in to post a comment.
Menu

    ×